Bahasa Indonesia yang Baik dan Benar: Apa Bedanya?
“Gimana sih, Pak? Bapak mengajar Bahasa Indonesia, tetapi kok ngomongnya loe-gue?”
Saat mengajar di SMA Kasih Karunia Jakarta/Dokumentasi pribadi
Kalimat itu terlontar dari seorang siswa ketika saya sedang menjelaskan materi Bahasa Indonesia di kelas. Sekilas terdengar seperti gurauan, tetapi di dalamnya tersimpan sebuah kritik yang jujur. Seorang guru Bahasa Indonesia yang mengajarkan kaidah bahasa justru kedapatan menggunakan ragam bahasa yang jauh dari kesan “resmi”.
Pengalaman serupa juga pernah saya alami dalam percakapan dengan seorang teman. Ia melontarkan kritik yang hampir sama: bagaimana mungkin seorang pengajar Bahasa Indonesia tidak selalu menggunakan bahasa yang dianggap “baku”?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana seperti itu sering kali membuat saya berhenti sejenak untuk berpikir. Benarkah seorang guru Bahasa Indonesia harus selalu berbicara dengan bahasa yang sangat baku? Apakah penggunaan kata-kata seperti gue dan loe otomatis berarti kita tidak menggunakan Bahasa Indonesia yang baik dan benar?
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai pembelaan atas kebiasaan saya berbicara. Juga bukan upaya mengklarifikasi peristiwa kecil di kelas. Sebaliknya, tulisan ini lahir dari sebuah kegelisahan kecil, kegelisahan tentang bagaimana kita memahami istilah yang sering kita dengar sejak sekolah: Bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Bagi banyak orang, istilah itu sering dimaknai secara sederhana: bahasa yang baku, resmi, dan sesuai dengan tata bahasa. Padahal, dalam praktik kehidupan sehari-hari, bahasa memiliki banyak ragam. Ada ragam tulis, ada ragam lisan. Ada bahasa untuk pidato resmi, ada bahasa untuk percakapan santai. Semua memiliki tempatnya masing-masing.
Karena itu, melalui tulisan ini saya ingin mengajak kita, terutama anak-anak Indonesia yang sedang belajar bahasa, untuk berpikir bersama. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan Bahasa Indonesia yang baik dan benar? Apakah “baik” selalu berarti “baku”? Ataukah ada perbedaan makna yang sering kita lewatkan?
Pertanyaan-pertanyaan sederhana itulah yang akan kita telusuri bersama dalam tulisan ini.
Bahasa Indonesia yang Baik
Bahasa Indonesia dikatakan baik apabila digunakan secara tepat sesuai dengan lawan bicara dan situasi komunikasi.
Artinya, seorang penutur mampu menyesuaikan pilihan kata, gaya bahasa, dan tingkat keformalan sesuai dengan kondisi sosial yang dihadapi.
Contoh berdasarkan lawan bicara
Bayangkan seorang mahasiswa bernama Kevin yang sedang menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL) di sebuah desa. Sebagian besar masyarakat di desa tersebut lebih terbiasa menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika Kevin ingin membeli pepaya di pasar tradisional, ia mungkin berkata:
“Punten, Mbah, berapa harga pepaya ini?”
Kata “punten” dan “Mbah” merupakan pilihan kata yang lebih sesuai dengan budaya lokal masyarakat Jawa. Dalam konteks tersebut, penggunaan bahasa seperti ini justru lebih efektif membangun kedekatan sosial.
Sebaliknya, jika Kevin mengatakan:
“Maaf, berapakah harga pepaya ini?”
kalimat tersebut memang benar secara tata bahasa, tetapi dalam situasi sosial tertentu bisa terasa lebih formal dan menciptakan jarak komunikasi.
Contoh ini menunjukkan bahwa bahasa yang baik tidak selalu ditentukan oleh bentuk bakunya, tetapi oleh kesesuaiannya dengan konteks sosial.
Contoh berdasarkan situasi
Contoh lain dapat dilihat dari hubungan antara Kevin dan ayahnya, Pak Chandra, yang berprofesi sebagai kepala sekolah.
Di rumah, Kevin tentu dapat berbicara santai kepada ayahnya, misalnya:
“Pa, boleh ngobrol sebentar?”
Namun situasinya berbeda ketika Kevin datang ke sekolah dan ayahnya sedang memimpin rapat guru. Dalam konteks formal seperti itu, Kevin perlu menggunakan bahasa yang lebih resmi, misalnya:
“Selamat siang, Pak. Apakah saya boleh berbicara sebentar?”
Perbedaan ini menunjukkan bahwa situasi komunikasi turut menentukan apakah suatu penggunaan bahasa dapat dianggap baik atau tidak.
Dengan kata lain, bahasa Indonesia yang baik adalah bahasa yang digunakan secara tepat sesuai dengan siapa kita berbicara dan dalam situasi apa komunikasi itu berlangsung.
Bahasa Indonesia yang Benar
Jika bahasa yang baik berkaitan dengan konteks penggunaan, maka bahasa Indonesia yang benar berkaitan dengan kesesuaian terhadap kaidah bahasa baku.
Kaidah tersebut diatur dalam pedoman resmi seperti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) dan rujukan kosakata dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Bahasa yang benar umumnya digunakan dalam ragam tulis formal, misalnya:
- makalah
- proposal penelitian
- laporan ilmiah
- skripsi
- artikel akademik
Sebagai contoh, perhatikan kalimat berikut:
martin ruma, guru bahasa indonesia di sekolah marie joseph kelapa gading.
Kalimat tersebut tidak sesuai dengan kaidah penulisan bahasa Indonesia karena nama orang, nama lembaga, dan nama tempat harus diawali huruf kapital.
Penulisan yang benar adalah:
Martin Ruma, guru Bahasa Indonesia di Sekolah Marie Joseph Kelapa Gading.
Contoh sederhana ini menunjukkan bahwa kebenaran bahasa ditentukan oleh kepatuhan terhadap aturan ejaan dan tata bahasa yang berlaku.
Kesimpulan
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa bahasa Indonesia yang baik dan benar memiliki dua prinsip yang berbeda tetapi saling melengkapi.
- Bahasa yang baik digunakan sesuai dengan konteks komunikasi, yaitu siapa lawan bicara kita dan dalam situasi apa kita berbicara.
- Bahasa yang benar digunakan sesuai dengan kaidah bahasa baku, terutama dalam ragam tulis formal.
Dengan memahami kedua prinsip tersebut, kita tidak hanya mampu menggunakan bahasa secara tepat, tetapi juga lebih bijak dalam menempatkan bahasa sesuai dengan ruang sosial dan tujuan komunikasi. Maka, sebelum kita memperdebatkan mana yang lebih benar, bahasa baku atau bahasa percakapan, barangkali ada satu pertanyaan yang lebih mendasar untuk kita pikirkan bersama: apa sebenarnya fungsi bahasa itu?
Apakah sekadar mematuhi kaidah, ataukah membantu manusia saling memahami dalam berbagai ruang kehidupan?


Posting Komentar