“Belajar Menulis Landasan Teori: Dari Buku ke Ruang Kelas”
![]() |
| Siswi Kelas XII SMA Kasih Karunia Jakarta sedang mencari refrensi untuk menulis Bab II Karya Ilmiah/Dokumentasi pribadi |
BAB II
STUDI PUSTAKA
Landasan teori merupakan bagian penting dalam sebuah karya ilmiah. Pada bagian ini peneliti mengkaji berbagai konsep, pendapat para ahli, serta hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik penelitian. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan tidak berdiri sendiri, melainkan bertumpu pada pengetahuan yang telah berkembang sebelumnya.
Menurut Sugiyono, landasan teori adalah seperangkat konsep yang digunakan sebagai dasar untuk menjelaskan fenomena yang diteliti serta membantu peneliti dalam merumuskan hipotesis penelitian (Sugiyono, 2017). Sementara itu, Kerlinger menyatakan bahwa teori berfungsi menjelaskan hubungan antarvariabel sehingga dapat digunakan untuk memahami dan memprediksi suatu gejala (Kerlinger, 2006).
Berdasarkan pengertian tersebut, landasan teori dalam penelitian ini digunakan untuk menjelaskan hubungan antara gaya mengajar guru dan minat belajar siswa.
2.1 Pengaruh
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengaruh adalah daya yang ada atau timbul dari sesuatu (orang atau benda) yang ikut membentuk watak, kepercayaan, atau perbuatan seseorang. Dengan kata lain, pengaruh dapat dipahami sebagai kekuatan yang menimbulkan perubahan pada sikap atau perilaku seseorang.
Hugiono dan Poerwantana menjelaskan bahwa pengaruh merupakan dorongan atau kekuatan yang mampu membentuk sikap maupun tindakan seseorang (Afdhal, 2021). Sementara itu, dalam kajian ilmu sosial, pengaruh sering dipahami sebagai hubungan sebab–akibat antara satu variabel dengan variabel lainnya.
Dalam konteks pendidikan, pengaruh dapat terlihat dari bagaimana tindakan guru di dalam kelas dapat memengaruhi sikap belajar siswa. Djamarah (2015) menyatakan bahwa perilaku guru dalam mengajar dapat memberikan dampak langsung terhadap motivasi dan minat belajar peserta didik.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengaruh dalam penelitian ini adalah hubungan sebab–akibat antara gaya mengajar guru dengan minat belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah gaya mengajar guru benar-benar memberikan dampak terhadap minat belajar siswa.
2.2 Gaya Mengajar Guru
Kata gaya menurut KBBI dapat diartikan sebagai cara atau ragam tertentu dalam melakukan sesuatu. Dalam konteks pendidikan, gaya mengajar merujuk pada cara seorang guru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa.
Menurut Sardiman (2018), mengajar merupakan usaha menciptakan kondisi belajar yang memungkinkan siswa memperoleh pengalaman belajar secara optimal. Dengan kata lain, mengajar bukan sekadar menyampaikan informasi, tetapi juga membangun situasi yang memungkinkan siswa terlibat secara aktif dalam proses belajar.
Sejalan dengan itu, Grasha (1996) menjelaskan bahwa gaya mengajar merupakan pola perilaku yang digunakan guru dalam berinteraksi dengan siswa di kelas. Setiap guru memiliki gaya mengajar yang berbeda, misalnya gaya mengajar yang bersifat otoritatif, demokratis, fasilitatif, atau kolaboratif.
Pandangan yang menarik datang dari Quintilian, seorang ahli retorika Romawi, yang menyatakan bahwa mengajar pada hakikatnya adalah belajar kembali. Maksudnya, ketika seorang guru mengajar, ia juga belajar memahami karakter, cara berpikir, dan kebutuhan siswanya.
Dengan demikian, gaya mengajar guru dapat dipahami sebagai cara atau strategi yang digunakan guru dalam menyampaikan materi pelajaran, berinteraksi dengan siswa, serta menciptakan suasana belajar di kelas.
Gaya mengajar yang sesuai dengan kebutuhan siswa diyakini dapat meningkatkan minat belajar mereka. Sebaliknya, gaya mengajar yang kurang sesuai dengan karakter peserta didik dapat membuat proses belajar terasa membosankan.
2.3 Minat Belajar
Minat merupakan salah satu faktor penting dalam proses belajar. Syah (2017) menyatakan bahwa minat adalah kecenderungan dan kegairahan yang tinggi terhadap sesuatu. Minat mendorong seseorang untuk melakukan suatu aktivitas secara sukarela tanpa paksaan dari orang lain.
Pendapat serupa dikemukakan oleh Slameto (2015) yang menyatakan bahwa minat adalah rasa suka dan ketertarikan pada suatu aktivitas tanpa ada yang menyuruh. Seseorang yang memiliki minat terhadap suatu kegiatan akan cenderung memberikan perhatian lebih besar terhadap kegiatan tersebut.
Dalam konteks pendidikan, minat belajar dapat diartikan sebagai ketertarikan siswa untuk mengikuti kegiatan belajar, memahami materi pelajaran, serta terlibat aktif dalam proses pembelajaran.
Menurut Hurlock (2011), minat belajar yang tinggi akan mendorong siswa untuk lebih tekun, lebih fokus, serta lebih aktif dalam proses belajar. Oleh karena itu, guru memiliki peran penting dalam menumbuhkan minat belajar siswa melalui strategi dan metode mengajar yang tepat.
Berdasarkan berbagai pendapat tersebut, minat belajar dalam penelitian ini diartikan sebagai ketertarikan siswa untuk mengikuti proses pembelajaran secara aktif dan sukarela.
Pertanyaan yang kemudian muncul adalah: apakah gaya mengajar guru mampu memengaruhi minat belajar siswa?
Pertanyaan inilah yang akan dijawab melalui proses pengumpulan dan analisis data dalam penelitian ini.
Referensi
- Afdhal. 2021. Metodologi Penelitian Pendidikan.
- Djamarah, Syaiful Bahri. 2015. Psikologi Belajar. Jakarta: Rineka Cipta.
- Grasha, Anthony. 1996. Teaching with Style. Pittsburgh: Alliance Publishers.
- Hurlock, Elizabeth. 2011. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
- Kerlinger, Fred N. 2006. Foundations of Behavioral Research.
- Sardiman. 2018. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers.
- Slameto. 2015. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: Rineka Cipta.
- Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
- Syah, Muhibbin. 2017. Psikologi Pendidikan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Posting Komentar