Jejak dari Papua: Cerita Anak Kampung yang Dibesarkan oleh Kasih

Table of Contents

Gambar anak Papua bersama gurunya
Martin Ruma bersama anak Papua/Dok pribadi

Langkah Tanpa Alas Kaki dari Tajah Lereh: Catatan Perjalanan Seorang Anak Kampung

Tajah Lereh, sebuah distrik di Kabupaten Jayapura, Papua.

Sekitar tahun 2001, tempat itu masih jauh dari keramaian kota. Jalan belum ramai dilalui kendaraan. Transportasi pun seadanya. Waktu berjalan pelan, seperti tidak terburu-buru mengejar apa pun.

Teknologi paling canggih yang bisa dibayangkan saat itu hanyalah televisi hitam putih. Itupun tidak semua orang memilikinya. Hanya beberapa keluarga yang dianggap “mampu” yang bisa menyalakannya pada malam hari.

Bagi anak-anak kampung, menonton televisi bukan sekadar hiburan. Ia adalah jendela kecil untuk melihat dunia yang jauh di luar sana.

Di tempat yang sederhana itu, seorang anak kampung juga tumbuh.

Namanya Martin Ruma.

Ia hanyalah anak biasa. Bahkan mungkin lebih sederhana dari kebanyakan anak lain. Setelah lulus SD di SP V, ia tidak tahu harus melanjutkan sekolah ke mana. Bukan karena tidak mau belajar, tetapi karena keadaan keluarga yang pas-pasan membuat masa depan terasa seperti jalan yang berkabut.

Dalam kebingungan itu, Tuhan seperti mengirim seseorang.

Namanya Feliks Kalakmabin, seorang rohaniwan Katolik dari Ordo Fransiskan. Dalam ingatan Martin kecil, sosok itu seperti utusan yang datang pada waktu yang tepat. Dialah yang menggandeng tangan bocah kecil yang sering berjalan tanpa alas kaki itu menuju sebuah tempat baru: Panti Asuhan Putri Kerahiman di Hawai Sentani.

Gambar dua orang pria dari Papua
Bersama Ka Blasisus Boro, Salah satu Pembina Pantiasuhan Putri Kerahiman Papua/Dok pribadi

Di sanalah sebuah perjalanan baru dimulai.

**

Di panti asuhan, hidup berjalan dengan ritme yang berbeda.

Ada aturan, ada disiplin, ada doa yang mengawali dan menutup hari.

Namun di balik semua itu, ada satu hal yang paling terasa: kasih.

Martin kecil dibesarkan oleh tangan-tangan penuh cinta dari para suster dalam komunitas DSY. Mereka mendidik bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan kesabaran yang sering kali tidak terlihat oleh mata anak-anak yang mereka rawat.

Di tempat itu ia tinggal sampai kelas 3 SMP semester pertama.

Gambar dua orang Papua di Jakarta
Bersama Ka Olifa Pikindu anggota MRP Papua, sekaligus alumni Panti Asuhan/Dok pribadi
Memasuki semester kedua, seluruh penghuni panti yang laki-laki dipindahkan ke Panti Asuhan Polomo Sentani. Tempat baru, suasana baru, tetapi perjalanan yang sama: belajar menjadi manusia yang lebih kuat.

Di Polomo, Martin dibina oleh seorang pembina yang tegas tetapi berhati lembut. Namanya Emus Yeuyanan. Dari tangan beliau, disiplin bukan sekadar aturan, tetapi cara hidup.

Di sana ia menamatkan pendidikan SMP.

Setelah itu, perjalanan berlanjut ke SMA Taruna Bakti Waena.

Statusnya masih sama: anak asrama. Hanya namanya yang berbeda.

Sepertinya kehidupan asrama memang tidak pernah jauh dari langkah Martin Ruma.

Gambar dua orang Papua di Jakarta
Bersama alumi Asrama Tauboria, bertemu saat di Jakarta/Dok pribadi
Lulus SMA, ia kembali hidup di asrama, kali ini di Asrama Mahasiswa Katolik Tauboria. Dari sana ia menempuh pendidikan di Universitas Cenderawasih, memilih jalan menjadi seorang guru.

Hari ini, jalan hidup itu membawanya cukup jauh dari Tajah Lereh. Ia mengabdi sebagai guru di SMA Kanaan Jakarta Barat.

Gambar seorang guru ditemani muridnya
Martin Ruma bersama muridnya, SMA Kanaan Jakarta dan SMTK Bethel Jakarta/Dok pribadi
Jika perjalanan ini dilihat dari jauh, ia seperti garis panjang yang berliku.

Dari kampung kecil di Papua, melewati panti asuhan, asrama, dan bangku kuliah, hingga akhirnya sampai di Jakarta.

Tetapi jika direnungkan lebih dalam, perjalanan itu sebenarnya ditopang oleh satu fondasi yang kuat: pendidikan dan kasih yang ia terima di Panti Asuhan Putri Kerahiman.

Karena itu, dari hati yang paling dalam, ia hanya bisa berkata:

  • Terima kasih kepada para donatur.
  • Terima kasih kepada para pembina.
  • Terima kasih kepada para alumni.
  • Dan kepada siapa saja yang pernah menjadi bagian dari perjalanan ini.

Tanpa kalian semua, mungkin saya hanya akan tetap menjadi seorang anak kampung yang berjalan tanpa arah.

Tetapi melalui kalian, saya belajar bermimpi.


Martin Ruma

Alumni Panti Asuhan Putri Kerahiman Hawai dan Polomo, angkatan pertama.

**

Hari ini, ketika menoleh ke belakang, saya semakin percaya bahwa sukses atau gagal sering kali bukan semata soal nasib. Ia juga tentang pilihan, pilihan untuk bertahan, pilihan untuk belajar, dan pilihan untuk menerima didikan dengan hati yang terbuka.

Karena itu, untuk adik-adik yang hari ini sedang tinggal di panti asuhan Putri Kerahiman: jangan pernah lelah menerima didikan dari para pembina. Apa pun bentuknya, di balik ketegasan itu selalu ada harapan agar kalian suatu hari bisa berdiri lebih kuat dari hari ini.

Sukses bukan hanya milik anak kota.

Sukses juga bukan milik mereka yang lahir dari keluarga kaya.

Sukses adalah milik siapa saja yang mau berjuang, anak kampung atau anak kota, orang Papua atau orang Jawa.

Karena hidup selalu memberi ruang bagi mereka yang tidak berhenti berusaha. Ora et labora.

Hari ini pelajar.

Besok pemimpin.

Pertanyaannya sekarang sederhana saja:

ketika kesempatan dan didikan itu sudah ada di depan kita, apakah kita sungguh-sungguh siap memperjuangkannya?

Posting Komentar