Ketika Guru Memilih Percaya

Table of Contents

Ketika Guru Memilih Percaya
Martin Ruma (tengah) bersama tim debat binaan/dokumentasi pribadi
Di ruang guru, ada istilah yang sering terdengar lirih namun tajam:

“biang kerok.”

Label itu biasanya diberikan kepada anak-anak yang membuat kening guru piket berkerut hampir dua ratus persen.

Nama mereka lebih sering disebut dalam rapat kedisiplinan daripada dalam daftar prestasi.

Guru juga manusia.

Kami bisa jengkel.

Kami bisa lelah.

Kami bisa merasa ingin menyerah.

Namun suatu hari, sebuah pengalaman sederhana mengubah cara saya memandang anak-anak yang sering diberi label itu.

Saya memenangkan lomba debat bersama tiga murid yang di sekolah dikenal lebih karena kenakalannya daripada prestasinya.

Dan sejak hari itu, saya belajar sesuatu yang jauh lebih penting daripada teknik argumentasi.

Saya belajar tentang percaya.

Tentang Anak yang Disebut Sulit

Dulu saya berpikir sederhana:

jika murid pintar dengan segudang prestasi memenangkan lomba debat, itu hal yang biasa.

Memang jalurnya sudah begitu.

Tetapi ketika murid yang sering dianggap “tidak bisa diatur” tiba-tiba berdiri di panggung debat dan menantang sekolah-sekolah unggulan, itu terasa luar biasa.

Di situlah saya mulai bertanya pada diri sendiri:

Apakah benar ada anak yang sulit?

Ataukah kita, para orang dewasa, yang kesulitan memahami bagaimana mereka ingin dipercaya?

Pertanyaan ini sebenarnya bukan hanya kegelisahan pribadi. Dalam dunia pendidikan, gagasan bahwa harapan guru dapat memengaruhi prestasi siswa telah lama dibahas.

Pada tahun 1968, penelitian terkenal yang dilakukan oleh Robert Rosenthal dan Lenore Jacobson menunjukkan bahwa ketika guru percaya bahwa seorang murid memiliki potensi besar, murid tersebut cenderung benar-benar menunjukkan peningkatan prestasi. Fenomena ini kemudian dikenal sebagai Pygmalion Effect.

Dengan kata lain, kepercayaan guru dapat menjadi kekuatan yang mengubah cara seorang anak melihat dirinya sendiri.

Keputusan yang Terlihat Gila

Awal 2016, sekolah kami diundang mengikuti lomba debat yang cukup bergengsi.

Pesertanya bukan sekolah biasa.

Beberapa di antaranya pernah menjadi finalis nasional.

Secara logika, saya harus memilih tim terbaik.

Dua pembicara terbaik tingkat provinsi ada di tangan saya.

Beberapa juara regional juga tersedia.

Namun entah mengapa, saya memilih tiga anak IPS yang lebih dikenal karena kenakalannya daripada kecerdasannya.

Ruang guru riuh.

Pimpinan mempertanyakan.

Rekan-rekan heran.

Saya sendiri?

Ragu.

Sejujurnya, keputusan itu lebih dekat pada nekat daripada yakin.

Saya ingin membuktikan sesuatu.

Tetapi kepada siapa?

Kepada sekolah?

Kepada mereka?

Atau kepada ego saya sendiri sebagai guru?

Waktu persiapan tinggal sehari.

Teknik debat belum dipelajari.

Mental belum terbentuk.

Namun saya mengatakan kepada mereka satu kalimat sederhana:

“Saya percaya kalian bisa.”

Kalimat itu terdengar gagah.

Padahal di dalam hati, saya gemetar.

Ketika Kepercayaan Dipertaruhkan

“Bapak tidak salah pilih kami?”

Pertanyaan itu seperti cermin yang memantulkan keraguan saya sendiri.

Saya bisa mundur saat itu.

Saya bisa kembali pada pilihan aman.

Tetapi saya memilih berdiri di depan mereka dan berkata:

“Tidak.”

Saya tahu mereka sering dicap nakal.

Saya tahu reputasi mereka tidak baik.

Namun saya juga tahu sesuatu yang sederhana:

setiap anak ingin dihargai.

Saya hanya bertanya satu hal kepada mereka:

“Kalau kalian harus memilih, kalian ingin dikenal sebagai anak bermasalah atau anak berprestasi?”

Mereka tidak menjawab dengan kata-kata.

Tetapi tatapan mereka cukup menjelaskan semuanya.

Saya meninggalkan mereka sore itu dengan satu kalimat:

“Buktikan bahwa kalian tidak seperti yang dikatakan orang.”

Sebuah Pelajaran dari Panggung Debat

Mereka berhasil masuk semifinal.

Melawan sekolah unggulan.

Lima menit sebelum lomba dimulai, saya hanya berkata:

“Nak, kalau sudah basah, basah sekalian. Pergi dan menangkan. Saya percaya pada kalian.”

Entah bagaimana caranya, mereka menang.

Anak-anak yang dulu disebut “biang kerok” itu menjatuhkan raksasa debat tingkat provinsi.

Hari itu saya tidak melihat teknik debat yang sempurna.

Saya melihat keberanian yang lahir dari rasa dipercaya.

Kami Kalah, Tetapi Saya Menang

Di final kami kalah.

Juara dua.

Namun dalam perjalanan pulang, saya merasa menjadi pemenang.

Saya tidak hanya melihat mereka berubah.

Saya juga melihat diri saya berubah.

Saya menyadari bahwa mungkin selama ini saya terlalu cepat menilai.

Terlalu cepat mengelompokkan.

Terlalu cepat menentukan siapa yang “layak” dan siapa yang “tidak”.

Padahal pendidikan seharusnya memberi ruang bagi kemungkinan.

Seperti yang pernah diingatkan oleh John Hattie dalam riset besar tentang pembelajaran, ekspektasi guru merupakan salah satu faktor yang sangat kuat memengaruhi keberhasilan belajar siswa.

Ketika guru percaya pada potensi muridnya, murid itu sering kali mulai percaya pada dirinya sendiri.

Dan dari situlah perubahan dimulai.

Renungan Seorang Guru

Hari itu saya belajar bahwa kepercayaan adalah pupuk yang tidak terlihat, tetapi mampu menumbuhkan hutan.

Saya juga belajar bahwa kadang keputusan yang tampak gila justru menyelamatkan harga diri seorang anak.

Mungkin menjadi guru bukan terutama tentang seberapa banyak murid pintar yang kita hasilkan.

Tetapi tentang berapa banyak anak yang kita selamatkan dari label.

Dan sejak hari itu saya sering bertanya pada diri sendiri, dan mungkin juga kepada Anda:

Sudahkah kita memberi ruang bagi seseorang untuk membuktikan bahwa ia lebih besar dari label yang menempel padanya?

Karena bisa jadi, pelajaran hidup terbesar dari kisah ini sederhana:

satu kepercayaan yang tulus dapat mengubah masa depan seseorang.

✔ Sumber gagasan yang digunakan dalam tulisan ini:

  1. Penelitian Robert Rosenthal & Lenore Jacobson tentang Pygmalion Effect (1968)
  2. Meta-analisis pembelajaran oleh John Hattie dalam Visible Learning

Posting Komentar