OMK dan Pelayanan Gereja: Alasan Saya Maju Jadi Ketua Lingkungan St. Petrus Volker
![]() |
| Martin Ruma (paling kiri) bersama umat Katolik St. Petrus Volker |
OMK Jadi Pertimbangan Saya Menjadi Ketua Lingkungan St. Petrus Volker: Catatan Pelayanan
Ini adalah refleksi pribadi.
Catatan kecil dari seseorang yang sedang belajar memahami arti pelayanan.
Saya tumbuh dan besar dalam keluarga Katolik. Tidak terlalu taat, setidaknya jika diukur dengan ukuran kesalehan yang sering kita dengar. Namun sejak kecil saya percaya satu hal sederhana: Tuhan itu Maha Baik.
Dalam perjalanan hidup yang biasa saja itu, saya melihat bagaimana penyertaan Tuhan bekerja dengan cara yang sunyi. Tidak selalu spektakuler, tetapi nyata.
Dan di rumah kecil kami, devosi kepada Bunda Maria seperti menjadi nafas yang tak pernah putus. Ada rasa tenang setiap kali nama Maria disebut dalam doa.
Berkat Tuhan datang hari lepas hari, kadang dalam bentuk yang besar, kadang hanya berupa kekuatan untuk melewati hari.
**
Suatu waktu saya mulai “melihat” kehidupan menggereja di sekitar saya.
Dan terus terang, bagi saya pribadi, ada bagian yang terasa monoton.
Ini tentu pendapat yang sangat personal.
Saya melihat wajah-wajah yang sama dalam banyak pelayanan: pemimpin ibadat, pemazmur, hingga dirigen. Orang yang sama, tugas yang sama, dari waktu ke waktu.
Lalu muncul pertanyaan di dalam hati: apakah mereka egois karena selalu mengambil bagian?
Tidak.
Justru sebaliknya. Karena kesetiaan merekalah kehidupan gereja tetap berjalan sampai hari ini. Tanpa mereka, mungkin banyak kegiatan iman sudah lama terhenti.
Namun di sisi lain, ada kelompok yang sebenarnya sangat diharapkan: Orang Muda Katolik (OMK).
- Kadang mereka hadir.
- Kadang menghilang.
- Hari ini muncul, besok tidak.
- Besok datang, minggu depan tidak terlihat lagi.
Itulah yang saya lihat.
![]() |
| Martin Ruma / Dok pribadi |
Dan pemandangan kecil itu perlahan berubah menjadi pertanyaan besar di dalam hati saya.
Jika orang muda, yang seharusnya menjadi penerus kehidupan gereja, hadirnya sesekali saja, bagaimana wajah gereja kita di masa depan?
Pertanyaan itu terus mengusik.
Akhirnya saya mengambil keputusan yang mungkin terdengar sederhana, tetapi bagi saya cukup serius: mencalonkan diri menjadi Ketua Lingkungan St. Petrus Wilayah 1, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok.
Tentu ada saja bisik-bisik yang terdengar.
“Ada apa ya, Pak Martin kok ambisi sekali mau jadi ketua?”
Saya hanya bisa tersenyum.
Karena sebenarnya jawabannya sederhana: bukan ambisi, tetapi rasa prihatin.
Saya ingin OMK tidak hanya menjadi pelengkap kegiatan gereja. Saya berharap mereka bisa menjadi motor penggerak kehidupan umat.
Jujur saja, sebagai manusia biasa saya juga punya perhitungan yang sangat duniawi.
Mengajar les, membina ekstrakurikuler, atau mengelola blog yang menghasilkan dari Adsense, semua itu jelas lebih “terlihat hasilnya”. Ada angka yang bisa dihitung, ada pemasukan yang bisa dirasakan.
Sementara pelayanan sosial di gereja sering kali hanya menghasilkan satu hal: lelah.
Tetapi entah mengapa, hati saya memilih jalan yang lain.
Mungkin karena saya percaya satu hal sederhana: gereja bukan sekadar bangunan tempat kita datang dan pulang. Gereja adalah kita sendiri, umat yang hidup di dalamnya.
Jika umatnya perlahan menjauh, maka bangunan itu hanya akan menjadi ruang kosong yang sepi.
Karena itu saya berharap kita bisa berjalan bersama.
Mengurangi prasangka, memperbanyak kerjasama, dan perlahan membangun kehidupan lingkungan Santo Petrus menjadi lebih hidup.
Sebab gereja yang kuat bukan dibangun oleh satu orang, melainkan oleh banyak hati yang bersedia berjalan bersama.
Pro Ecclesia et Patria.
Namun di tengah semua niat baik itu, saya juga sering bertanya kepada diri sendiri:


Posting Komentar