“Bicara Supaya Saya Tahu”: Pelajaran Komunikasi Jujur dari Siswi SMA Kanaan Jakarta

Table of Contents

Gambar siswa Kanaan Jakarta Menangkan Debat Asia Parlemen
Grace dkk/Dokumenentasi Pribadi

“Bicara Supaya Saya Tahu, Jangan Diam Saja”

Kalimat ini mungkin terdengar agak aneh. Tapi saya harap Anda membacanya sampai selesai agar tidak salah paham.

Saya seorang guru “kampung” yang mencoba menerapkan teknik mengajar soften. Teknik ini sebenarnya berasal dari dunia bisnis, tetapi bisa diterapkan dalam pendidikan. Salah satu prinsip pentingnya adalah open gesture, bersikap terbuka.

Terbuka di sini bukan hanya dalam menyampaikan materi, tetapi juga berani mengakui kesalahan. Jika guru salah, katakan salah. Jika siswa mengkritik, dengarkan. Tujuannya bukan menjatuhkan, tetapi memperbaiki proses belajar.

Tulisan ini tidak membahas teknik soften secara lengkap. Saya ingin bercerita tentang seorang siswa: Grace Elisabeth, siswi kelas XII SMA Kanaan Jakarta.

Suatu hari, ia mengatakan sesuatu yang cukup mengejutkan saya:

“Kalau memang saya salah, Bapak bicara saja. Jangan diam, karena saya tidak tahu kesalahan saya apa.”

Kalimat sederhana itu justru menjadi tamparan bagi saya.

Grace adalah siswa yang kritis, jujur, dan apa adanya. Ia tidak mencari aman dengan diam. Ia ingin tahu, ingin belajar, dan berani dikoreksi.

Peristiwa itu membuat saya banyak berefleksi:

Sudah benarkah cara saya mengajar?

Apakah siswa benar-benar memahami materi?

Apakah saya sudah cukup terbuka sebagai guru?

Seorang guru bisa bingung, bahkan stres, ketika siswa hanya diam. Tapi di sisi lain, siswa juga tidak akan berkembang jika guru memilih diam terhadap kesalahan mereka.

Dari Grace, saya belajar satu hal penting: komunikasi harus dua arah dan jujur.

Pelajaran Hidup yang Bisa Diambil

1. Komunikasi Itu Dasar Segalanya

Hampir seluruh hidup manusia dipenuhi komunikasi:

Berdoa adalah komunikasi dengan Tuhan

Berpikir adalah komunikasi dengan diri sendiri

Berinteraksi adalah komunikasi dengan orang lain

Tanpa komunikasi, masalah tidak akan pernah selesai.

Grace mengajarkan bahwa komunikasi harus terbuka, jelas, dan tidak berputar-putar.

2. Kejujuran Itu Kadang Menyakitkan, Tapi Menyembuhkan

Lebih baik sakit karena kejujuran

daripada terluka karena ketidakjujuran.

Kejujuran:

mungkin tidak nyaman,

bisa terasa keras,

tetapi justru membangun.

Baik guru maupun siswa perlu berani berkata:

“Apa yang salah, dan di mana letaknya.”

Bukan untuk menyakiti, tetapi untuk bertumbuh bersama.

Pada akhirnya, baik saya maupun Grace sama-sama belajar:

tidak ada manusia yang sempurna.

Jika ada yang kurang tepat, mari komunikasikan.

Jika ada yang tidak berkenan, mari dibicarakan.

Karena dari situlah perbaikan dimulai.

Terima kasih, Grace Elisabeth. Kehadiranmu menjadi bagian penting dalam perjalanan saya sebagai seorang guru yang masih terus belajar.

Posting Komentar