Titip Rindu untuk Ayah: Kisah Haru tentang Bakti Anak di Tengah Kesederhanaan
| Mbai NTT/Foto www.instagram.com/azizanoviea11 |
Titip Rindu untuk Ayah: Refleksi Cinta, Bakti, dan Kesederhanaan
“Sekalipun aku terlahir dari keluarga biasa, tetapi aku sangat bangga memiliki kedua orang tua seperti mereka.”
— N. Azizah
“Ayah, setiap detik bersamamu adalah hal terbaik dalam hidup. Seandainya waktu bisa diulang, maka Mbay adalah tempat paling tepat untuk memulai kisah dulu.”
Kalimat itu bukan dialog dalam serial televisi.
Itu pengakuan seorang anak kepada ayahnya.
Namanya Novilea Azizah, seorang blogger muda dari Mbay, Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur. Saya tidak menemukan banyak informasi tentang dirinya. Hanya potret seorang gadis berjilbab sederhana, wajahnya teduh. Itu saja.
Namun kadang, bukankah kesederhanaan justru menyimpan kedalaman?
Kebanggaan dalam Kesederhanaan
Ia menulis tentang keluarganya. Tentang Mbay yang mungkin bagi sebagian orang terdengar asing. Tentang ayahnya yang seorang petani. Tentang ibunya yang ibu rumah tangga.
Tidak ada kemewahan dalam cerita itu. Tidak ada gemerlap kota besar. Tidak ada latar kehidupan yang memukau dunia.
Namun ada satu hal yang membuat saya berhenti membaca sejenak:
“Sekalipun aku terlahir dari keluarga biasa, tetapi aku sangat bangga memiliki kedua orang tua seperti mereka.”
Saya bertanya dalam hati, masih adakah kalimat seperti ini lahir dengan jujur dari generasi hari ini?
Di tengah arus media sosial yang sering memamerkan pencapaian dan kemewahan, seorang anak justru memamerkan kebanggaannya pada kesederhanaan orang tuanya.
Bukankah itu sesuatu yang langka?
Ketika Realita Menampar
Pikiran saya melompat pada sebuah berita yang pernah viral. Seorang pria lansia bernama Udjan Susanto terbaring di atas selokan di wilayah Duri Utara, Jakarta Barat. Tidak lagi diakui oleh anak-anaknya. Warganet menyebutnya “Malin Kundang zaman now”.
Nama Malin Kundang yang selama ini kita dengar sebagai dongeng sebelum tidur, tiba-tiba terasa begitu nyata.
Saya sempat berpikir, mungkin cerita tentang anak durhaka hanyalah mitos yang dilebih-lebihkan. Tetapi kenyataan itu seperti menampar pelan kesadaran saya.
Apakah dongeng itu sebenarnya sedang berulang, hanya dengan latar yang berbeda?
Refleksi Diri
Di satu sisi, ada anak yang bangga menyebut ayahnya petani.
Di sisi lain, ada ayah yang terbaring sendiri tanpa pengakuan.
Apa yang membedakan keduanya?
- Apakah pendidikan?
- Apakah lingkungan?
- Ataukah hati yang dibiasakan untuk mengingat asal-usul?
Saya membayangkan seorang ayah di Mbay, dengan tangan kasar karena cangkul, membaca tulisan anaknya suatu hari nanti. Barangkali tidak ada hadiah yang lebih mahal dari kalimat sederhana penuh bakti itu.
Selagi Masih Ada Waktu
Saya pun bertanya kepada diri sendiri, dan mungkin kepada Anda yang sedang membaca:
Sudahkah kita mengucapkan terima kasih kepada ayah dan ibu, selagi mereka masih bisa mendengar suara kita?
Ataukah kita menunda sampai waktu tidak lagi memberi kesempatan?
Mungkin kita tidak semua terlahir dari keluarga kaya. Tidak semua berasal dari kota besar.
Namun kebanggaan seorang anak kepada orang tuanya tidak pernah diukur dari itu.
Hal Sederhana yang Bermakna
Hari ini, sebelum malam benar-benar turun, mungkin ada baiknya kita berhenti sejenak:
- Mengirim pesan singkat
- Menelpon
- Atau sekadar berdoa dalam diam
Karena bisa jadi, yang orang tua tunggu bukan kiriman uang, melainkan pengakuan sederhana:
“Ayah, Ibu, aku bangga menjadi anakmu.”
Bagaimana dengan kita hari ini?
Titip rindu untuk Ayah.
Selamat berefleksi.
— Martin Ruma

Posting Komentar