Refleksi Meja Makan Bersama Romo dari Borneo: Kesadaran, Pendidikan, dan Meditasi

Table of Contents

Refleksi Meja Makan Bersama Romo yang Cerdas dari Tanah Borneo di Paroki Kami

Pintar dan hebat tidak berarti apa - apa, malahan semakin menjauhkan manusia dari Tuhan. "You butuh kesadaran sebagai manusia". Kata Romo.

Sadar bahwa yang mulia itu abadi meski diletakan kubangan, jelasnya lebih lanjut.

"Bagaimana mencapai itu mo" tanya saya. 

"Kamu butuh mengolah pikiran".

"Bagaimana caranya mo" tanya saya semakin penasaran.

Meditasi itu jawaban Romo pembimbing Ara seminaris itu. 

Melawan lupa. Catatan perjumpaan

Refleksi Meja Makan Bersama Romo yang Cerdas dari Tanah Borneo di Paroki Kami

Sekolah formal hanya formalitas karena nilai - nilai karakter telah berubah makna menjadi kumpulan diktat penuh angka dalam laporan.

Ngeri "sabdanya"

Marta, saya ingin mengatakan sesuatu ... Beberapa detik.

Ini sulit tapi harus saya katakan. Lihat reaksinya. 

Teknik menyiapkan hati agar berarti ala Romo

Kemuliaan sesuatu yang bernilai meski diletakan dalam kubangan selalu bercahaya

Refleksi Meja Makan Bersama Romo yang Cerdas dari Tanah Borneo di Paroki Kami

Satu meja bersama Romo dari Kalimantan di Ruang Makan Paroki FX. Banyak hal yang dibahas dari pukul 18.00 - 23.00 WIB, namun karena terbatasnya ingatan maka hanya dua yang terekam.

Pertama pendidikan formal hanya sekedar formalitas karena karakter sebagai legasi manusia seutuhnya hilang karena berkurangnya kesadaran sebagai "manusia"

Kedua tentang pikiran yang terbatas dan kesadaran diri. Bagian kedua mesti ditulis sebagai kenangan perjumpaan dengan pembina calon imam yang hebat itu.

Kesaradaran

Menyapa itu karakter #romo

Posting Komentar