Dari Jakarta ke Desa Ngablak: Pelajaran Hidup yang Mengubah Cara Pandang
![]() |
| Martin Ruma saat di Ngablak Jawa Tengah/Dok pribadi |
Di Antara Pagar Besi dan Senyum Ladang
Pernahkah kita benar-benar bertanya pada diri sendiri: adakah tempat yang lebih indah daripada Jakarta? Lebih tenang? Lebih ramah? Ataukah kita terlalu sibuk berlari di antara gedung-gedung tinggi, hingga lupa menengok desa-desa kecil yang diam-diam menyimpan kebijaksanaan hidup?
Saya, yang lahir dan besar di Jakarta, selalu merasa kota ini adalah pusat semesta. Riuhnya klakson, cepatnya langkah, dan kerasnya kompetisi seolah menjadi denyut nadi kehidupan. Desa, bagi saya waktu itu, hanyalah potongan gambar di buku pelajaran atau cerita yang lewat sepintas di layar televisi.
Namun semuanya berubah ketika saya “dipaksa” untuk melihat dari dekat, bukan sebagai anak kota yang sekadar singgah, tetapi sebagai manusia yang belajar. Tempat itu bernama Ngablak, sebuah dusun di kaki Gunung Merbabu, di Desa Sowanan, Magelang. Di sanalah saya mengikuti kegiatan Live In bersama siswa-siswi sekolah.
Live In, tinggal beberapa hari di rumah warga, menyatu dengan aktivitas mereka. Awalnya saya mengira ini sekadar program tahunan. Formalitas. Agenda sekolah. Tetapi rupanya, ada pelajaran sunyi yang menunggu untuk saya pahami.
Pak Mugi, ayah asuh dari anak-anak yang dipercayakan sekolah untuk saya dampingi, adalah seorang petani. Ladangnya tidak luas, kubis, wortel, dan tembakau yang ia cangkul sendiri dengan tangan yang mengeras oleh tanah. Istrinya setia merawat dan membersihkan ladang. Di sanalah saya pertama kali benar-benar menginjak tanah basah, merasakan dinginnya lumpur, dan menyadari bahwa sayur yang selama ini saya santap bukan sekadar komoditas pasar, melainkan hasil keringat dan doa.
Lalu ada satu momen kecil yang justru mengguncang saya.
“Nda kenal sama yang tadi, Mas Martin?” tanya Ibu ketika dua murid saya berjalan berpapasan tanpa menyapa.
Saya tersenyum canggung. “Mungkin mereka tidak lihat, Bu.”
Namun dalam hati saya bertanya: benarkah mereka tidak melihat, atau kami, orang kota, yang memang tidak terbiasa melihat satu sama lain?
Di desa, sapaan adalah napas kehidupan. Di kota, sapaan sering terasa canggung. Di desa, senyum dibagikan tanpa curiga. Di kota, pagar besi dan CCTV menjadi simbol rasa aman. Mengapa kami yang mengaku modern justru hidup dalam jarak?
Pergolatan batin itu semakin kuat ketika hujan turun dan kami berteduh di sebuah gubuk kecil penyimpanan pupuk. Sepasang petani menerima kami dengan hangat, bahkan menawarkan bekal makan siang mereka. Tanpa curiga. Tanpa perhitungan.
Saya teringat sebuah warung kecil yang saya datangi sebelumnya. Warung itu sering ditinggal pemiliknya, tetapi tak pernah kehilangan barang. “Sudah biasa,” kata mereka sambil tertawa ringan. Bahkan ladang pun bisa “dipinjam” ketika tetangga membutuhkan bahan makanan.
Saya terdiam.
Di Jakarta, pagar menjulang tinggi. Kamera terpasang di setiap sudut. Kunci berlapis. Namun rasa aman tetap rapuh. Di Ngablak, pintu mungkin tak selalu terkunci, tetapi hati mereka saling menjaga.
Mengapa kesederhanaan justru melahirkan ketulusan? Mengapa kelimpahan sering diikuti kecurigaan?
Saya merasa malu. Selama ini, mungkin tanpa sadar, saya memandang “wong ndeso” dengan sebelah mata. Padahal justru mereka yang menyimpan nilai yang mulai pudar di kota: kepercayaan, kepedulian, kebersamaan.
Sepulang dari sana, saya tidak lagi melihat Jakarta dengan cara yang sama. Kota ini tetap rumah saya. Tetapi kini saya membawa sepotong ladang dalam hati. Sebuah pengingat bahwa modernitas tidak boleh menghapus kemanusiaan.
Mungkin kita tidak bisa mengubah ritme kota yang cepat. Tetapi bukankah kita bisa mulai dari hal kecil? Menyapa lebih dulu. Percaya sedikit lebih banyak. Berbagi tanpa menunggu berlebih.
Karena pada akhirnya, bukan tempat yang menentukan kualitas hidup kita, melainkan nilai yang kita rawat di dalam diri.
Lalu saya bertanya pada diri sendiri, dan mungkin juga pada Anda yang membaca:
Apa pelajaran hidup yang kita dapat ketika melihat dunia dari sudut yang berbeda?

Posting Komentar