Field Trip dan Kegelisahan Guru: Mengapa Menulis Lebih Penting dari Sekadar Mengamati
![]() |
| Kegiatan Study Tour SMP Marie Joseph Jakarta/Dok pribadi |
Field Trip dan Kegelisahan Seorang Guru
“Kata-kata yang terucap akan lenyap, namun yang tertulis akan abadi.”
Verba Volant, Scripta Manent
Peribahasa Latin itu sederhana.
Tetapi setiap kali saya membacanya, ada rasa gentar di dada.
Karena sebagai guru, hampir setiap hari saya berbicara.
Menjelaskan.
Menegur.
Menyemangati.
Namun berapa banyak yang benar-benar tinggal di hati mereka?
Field Trip dan Kegelisahan Seorang Guru
Kegiatan field trip SMP Marie Joseph bukan sekadar perjalanan keluar sekolah.
Ia adalah perjalanan keluar dari kebiasaan.
Keluar dari papan tulis.
Keluar dari ruang kelas yang kadang terlalu sempit untuk rasa ingin tahu.
Saya tahu, anak-anak akan melihat banyak hal.
Mereka akan mendengar penjelasan.
Mereka akan menyerap cerita.
Tetapi saya juga tahu satu hal:
Apa yang hanya didengar, mudah sekali menguap bersama angin sore.
Karena itu saya berkata,
“Yang mendapatkan nilai adalah tulisan yang tayang di website sekolah.”
Mereka mungkin berpikir itu hanya soal nilai.
Padahal bagi saya, itu soal jejak.
Larangan yang Membingungkan
Selama kegiatan berlangsung, saya melarang mereka:
Mencatat
Memotret
Dan tentu saja mereka protes.
“Lha gimana sih, katanya harus menulis, tapi tidak boleh mencatat?”
Pertanyaan itu wajar.
Bahkan cerdas.
Namun di situlah pergulatan saya sebagai guru dimulai.
Saya tidak ingin mereka sibuk menunduk pada buku catatan.
Saya tidak ingin mereka sibuk memburu sudut foto terbaik.
Saya ingin mereka hadir.
Hadir sepenuhnya.
Mendengar dengan utuh.
Melihat dengan sadar.
Merasakan tanpa terganggu notifikasi dan ambisi dokumentasi.
Karena menulis bukan soal menyalin.
Menulis adalah soal memahami.
Dan pemahaman tidak lahir dari tergesa-gesa, melainkan dari perhatian.
Menulis sebagai Bentuk Tanggung Jawab
Setelah pulang, barulah mereka menulis.
Narasi deskripsi.
Dari keberangkatan sampai kembali ke sekolah.
Saya meminta mereka menggambarkan suasana.
Menceritakan apa yang benar-benar mereka alami.
Dan di akhir tulisan, mereka harus menemukan pelajaran hidup.
Mengapa harus ada pelajaran hidup?
Karena perjalanan tanpa makna hanyalah wisata.
Tetapi perjalanan yang direnungkan akan menjadi pertumbuhan.
Sebagai guru, saya tidak terlalu peduli seberapa rapi font Times New Roman ukuran 12 mereka.
Saya lebih peduli apakah ada satu kalimat jujur yang lahir dari hati mereka.
Apakah ada satu kesadaran baru.
Apakah ada satu sudut pandang yang berubah.
Pergolatan Batin
Kadang saya bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya terlalu menuntut?
Apakah saya mempersulit hal yang seharusnya sederhana?
Tetapi setiap kali saya membaca tulisan siswa yang akhirnya dimuat di website sekolah, saya tersenyum.
Di sana saya melihat sesuatu yang tidak terlihat saat field trip berlangsung.


Posting Komentar