Saya Tidak Selalu Kuat: Catatan dari Sore yang Hampir Runtuh

Table of Contents

Gambar seorang guru hampir ditabrak mobil di Jalan raya
Catatan dari Sore yang Hampir Runtuh

Hari ini, Rabu, 25 Februari 2026.

Kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.

Sebagai koordinator Pramuka di SMA Marie Joseph Kelapa Gading, Jakarta Utara, menjadi tugas saya memastikan setiap giat berjalan sebagaimana mestinya. Menginformasikan perlengkapan. Menyusun teknis kegiatan. Mengarahkan anggota.

Giat hari ini adalah membuat eco enzyme baru dan membuang eco enzyme yang telah diendapkan tiga bulan lalu ke Kali Kelapa Gading, sebagai wujud sederhana Tri Satya: cinta alam dan kasih sayang sesama manusia.

Sekitar pukul 14.45, setelah upacara pembukaan latihan, saya memberi arahan.

“Adik-adik pernah mengalami banjir di Jakarta baru-baru ini, kan?”

“Siap, mengalami, Kak!”

“Supaya kita tidak mengalami hal yang sama, setiap orang harus berkontribusi menjaga lingkungan. Hari ini kita praktik nyata.”

Saya berbicara dengan nada datar namun tegas.

Lalu saya mulai mengecek perlengkapan.

Dua sangga putra tidak membawa satu pun alat dan bahan yang telah diinformasikan sebelumnya.

Saat itu saya marah.

Bukan marah yang meledak, tetapi marah yang tertahan dan berputar-putar di kepala.

Pukul 16.00 saya pulang.

Motor tua yang saya beli dari keringat menjadi guru saya kayuh pelan menembus kemacetan menuju Jalan Yos Sudarso, Tanjung Priok.

Pikiran saya penuh.

“Kenapa anak-anak ini tidak bisa sedikit saja bertanggung jawab?”

Pertanyaan itu berulang-ulang.

Di depan SPBU Yos Sudarso, sebuah mobil menyerempet motor saya.

Teriakan terdengar keras, “Woi, mau mati loe?!”

Saya tersentak.

Saya menepi.

Lutut saya gemetar.

Beberapa detik lagi mungkin cerita hari ini berbeda.

Saya duduk sekitar tiga puluh menit di tepi jalan. Menenangkan napas. Menenangkan pikiran. Menenangkan rasa marah yang ternyata masih saya bawa dari sekolah.

Di situ saya sadar:

kemarahan yang tidak selesai bisa merembet ke mana-mana.

Sesampai di rumah, saya menceritakan semuanya kepada istri tercinta.

Beliau hanya berkata sederhana,

“Lakukan yang terbaik yang engkau bisa lakukan. Hasilnya biar Tuhan yang atur.”

Kalimat itu seperti air dingin yang menyiram kepala saya.

Saya tidak selalu kuat.

Saya bisa marah.

Saya bisa lelah.

Saya bisa hampir kehilangan kendali.

Tetapi setiap kali saya hampir runtuh, saya ingat:

ada anak-anak yang sedang belajar berdiri dari cara saya berdiri.

Malam itu pukul 20.30 saya menyalakan laptop. Soal ujian tengah semester harus dikumpulkan di Google Classroom untuk ditelaah tim kurikulum. Tanggung jawab tetap harus diselesaikan, meskipun hati belum sepenuhnya tenang.

Sekitar pukul 22.00 tugas selesai.

Mata belum juga mengantuk.

Bukan karena memikirkan kejadian sore tadi.

Tetapi karena segelas kopi hitam buatan istri.

Saat lelah datang dan saya butuh ruang sendiri, kopi menjadi teman yang setia.

Saya berpikir, jika kantuk belum datang, maka menulis adalah jalan pulang yang lain. Sebuah usaha sadar untuk melawan lupa.

Maka lahirlah catatan ini.

Bukan untuk mengatakan saya hebat.

Tetapi untuk mengingatkan diri saya sendiri: saya juga manusia.

Saya bisa salah.

Saya bisa khilaf.

Saya bisa hampir kehilangan arah.

Tetapi keluarga adalah tempat berpulang.

Dan menjaga nurani agar tetap jernih adalah aset paling berharga bagi seorang guru.

Seorang guru mungkin tidak selalu kuat.

Tetapi ia harus selalu mau kembali pada kesadaran.

Karena di ruang kelas yang sederhana itu,

masa depan sedang belajar dari cara kita mengelola diri.

Posting Komentar