Ketua Lingkungan dalam Gereja Katolik: Pelayanan Kecil yang Mendekatkan Umat

Table of Contents

Gambar seorang sedang berbicara dalam rapat
Martin Ruma menyampaikan pendapat saat rapat DPH/Dokumentasi pribadi
Kadang saya bertanya dalam hati: sebenarnya, ketua lingkungan itu apa?

Ia bukan jabatan besar. Bukan posisi yang diperebutkan dengan gegap gempita. Justru sebaliknya, ia adalah bagian paling kecil dalam hirarki Gereja Katolik Roma, yang sering disebut berada di paling bawah.

Namun justru karena itu, ia menjadi yang paling dekat dengan umat. Dengan keluarga-keluarga nyata. Dengan wajah-wajah yang saya kenal. Dengan cerita-cerita yang tidak selalu tertulis dalam laporan.

Secara struktur, Gereja Katolik memiliki hirarki yang panjang: dari Paus di Vatikan, ke kardinal dalam keuskupan, lalu ke paroki, wilayah, lingkungan, hingga akhirnya sampai pada umat.

Namun dalam pengalaman saya, hirarki itu bukan soal tinggi atau rendah, melainkan tentang pelayanan yang semakin mendekat.

Tulisan ini tidak bermaksud menjelaskan Gereja secara teologis. Saya hanya ingin berbagi kepada pembaca umum yang mungkin belum mengenal struktur ini. Jika ada yang kurang tepat, saya terbuka untuk dilengkapi, sebab Gereja selalu belajar, dan saya pun demikian.

Beberapa waktu lalu, saya menulis alasan mengapa saya mencalonkan diri sebagai Ketua Lingkungan Santo Petrus Wilayah  1.

Sejujurnya, langkah itu lahir dari keprihatinan.

Saya melihat Orang Muda Katolik (OMK) perlahan menjauh. Mereka tetap ada, tetapi jarang terlibat. Dalam doa, saya bertanya pada diri sendiri: apakah saya hanya akan mengeluh, atau mencoba melakukan sesuatu?

Dari pertanyaan itulah saya memberanikan diri mencalonkan diri. Bukan karena merasa mampu, melainkan karena ingin memberi, sedikit waktu, sedikit tenaga, dan jika perlu sedikit materi, bagi Gereja, melalui lingkungan kecil ini.

Harapan saya sederhana: OMK Santo Petrus Wilayah 1 dapat bangkit, tumbuh, dan menemukan kembali ruangnya sebagai penerus Gereja Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok, Jakarta Utara. Gereja akan terus ada, tetapi generasi harus terus dipersiapkan.

Di sisi lain, ada kejujuran yang tak banyak saya ungkapkan: saya sebenarnya berharap tidak terpilih.

Kesibukan pekerjaan membuat saya ragu. Saya sadar akan keterbatasan diri. Saya tahu tanggung jawab ini tidak ringan.

Namun pada Sabtu, 28 September 2019, umat memilih saya.

Saya terdiam cukup lama. Ada campuran syukur dan takut yang sulit dijelaskan. Dalam doa, saya perlahan belajar menerima: mungkin bukan saya yang memilih pelayanan ini, melainkan pelayanan ini yang memilih saya.

Saya percaya, jika Tuhan mengizinkan sebuah tanggung jawab, Ia tidak akan membiarkan hamba-Nya berjalan sendirian.

Sejak itu saya mulai memahami: menjadi ketua lingkungan bukan tentang memimpin banyak orang, melainkan tentang belajar mendengar. Tentang hadir ketika dibutuhkan. Tentang setia pada hal-hal kecil.

Barangkali di sanalah iman diuji, bukan di mimbar besar, tetapi di ruang-ruang sederhana bernama lingkungan.

Penutup

Kadang saya membayangkan lingkungan ini seperti sebuah rumah kecil. Tidak megah, tidak menjadi sorotan. Namun di sanalah doa-doa dipanjatkan, air mata jatuh, dan harapan disimpan diam-diam.

Jika Tuhan berkenan singgah, mungkin Ia tidak mencari aula besar, melainkan hati yang bersedia dibuka.

Gambar kegiatan umat Katolik Lingkungan Santo Petrus Volker, Paroki Santo Fransiskus Xaverius Tanjung Priok Jakarta Utara

Dan jika suatu hari pelayanan ini selesai, saya ingin dikenang bukan karena jabatan yang pernah saya pegang, melainkan karena kesediaan saya untuk tetap tinggal, untuk hadir, meski sederhana.

Pada akhirnya, pelayanan bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, tetapi seberapa dalam kita berserah.

Tuhan, ajari saya setia pada yang kecil.

Karena mungkin di sanalah Engkau menunggu.

#PasrahDalamDoa 

Posting Komentar