Persipura, Mantan Pemain Persipura Imanuel Wanggai, dan PSSI: Sepak Bola vs Politik Identitas di Indonesia

Table of Contents

Gambar Logo Persatuan Sepak Bola Papua, Persipura
Tahun 2022 telah berlalu, tetapi sisa-sisa politik identitas masih terasa. Istilah “kecebong” dan “kampret” menjadi bukti nyata bagaimana perpecahan itu terjadi. Memasuki tahun politik berikutnya, pertanyaannya: apakah polarisasi ini masih akan terus menjadi wajah Indonesia?

Saya tidak punya jawaban pasti. Namun, saya mengajak Anda melihat potret zaman dari sudut yang berbeda.

Dulu, di masa penjajahan, bangsa ini disatukan oleh satu tujuan: merdeka. Dan kita berhasil. Indonesia berdiri tegak sebagai bangsa yang berdaulat. Lalu, apa tugas kita sekarang?

Mengisi kemerdekaan.

Namun realitas hari ini seringkali memprihatinkan:

  • “Eh kecebong loe,”
  • “Eh kampret loe,”

bahkan lebih parah lagi:

  • “Eh kafir loe,”
  • “Eh Cina loe,”
  • “Eh komunis loe.”

Apakah ini cara kita mengisi kemerdekaan?

Kita sering terjebak pada hal-hal yang memecah belah. Padahal, ada satu ruang yang justru mampu menyatukan kita: sepak bola.

Sepak Bola, Persipura, dan PSSI: Simbol Persatuan

Sepak bola bukan sekadar permainan. Di Indonesia, sepak bola adalah identitas, emosi, dan kebanggaan. Dalam konteks ini, PSSI menjadi wadah yang menyatukan berbagai perbedaan.

Masih ingat saat Indonesia kalah dari Malaysia di Piala AFF 2018?

Saat itu, seluruh rakyat Indonesia bersatu. Tidak ada lagi sekat:

  • Tidak ada Jawa atau Papua
  • Tidak ada Islam atau Kristen
  • Tidak ada Persib atau Persija

Semua melebur dalam satu nama: Indonesia

Dan di situlah kita melihat wajah asli bangsa ini.

Belajar dari Persipura dan Mantan Pemain Persipura Imanuel Wanggai

Mari kita belajar dari Timur Indonesia, dari klub kebanggaan Papua: Persipura Jayapura.

Salah satu sosok yang patut dicontoh adalah Imanuel Wanggai, mantan pemain Persipura yang dikenal dengan dedikasi dan sportivitasnya.

Dalam sebuah pertandingan pada 22 September 2018 di Stadion Mandala, terjadi benturan keras antara Imanuel Wanggai dan Hendro Siswanto (Arema).

Keduanya mengalami cedera serius:

  • Wanggai harus mendapatkan 8 jahitan di pelipis
  • Hendro Siswanto sempat tidak sadarkan diri

Namun yang terjadi setelah itu justru menyentuh hati.

Dalam kondisi sempoyongan, Imanuel Wanggai bangkit dan menghampiri Hendro, bukan untuk marah, tetapi untuk meminta maaf.

Inilah nilai sejati olahraga.

Bukan soal menang atau kalah, tetapi soal sportivitas, respek, dan kemanusiaan.

Apa yang Bisa Dipelajari untuk Indonesia dan PSSI?

Jika nilai-nilai seperti yang ditunjukkan mantan pemain Persipura, Imanuel Wanggai, benar-benar dihidupi:

  • Tidak akan ada bentrokan antar suporter
  • Tidak akan ada konflik pemain
  • Tidak akan ada permusuhan karena perbedaan

Sepak bola melalui Persipura dan di bawah naungan PSSI telah memberi contoh: kita bisa berbeda, tapi tetap satu.

Refleksi untuk Tahun Politik

Pemilu hanya terjadi lima tahun sekali. Tetapi persaudaraan adalah untuk selamanya.

Belajarlah dari sepak bola:

  • Bertanding dengan keras
  • Tetapi tetap saling menghargai

Jangan sampai politik merusak persatuan yang sudah dibangun.

Tidak perlu lagi:

  • kecebong vs kampret
  • kami vs mereka

Karena sejatinya:

Kita adalah Indonesia.

Berbeda-beda, tetapi tetap satu.

Martin Ruma

Guru kampung yang terus belajar dari kehidupan, sepak bola, dan Indonesia.

Posting Komentar