Peta dan Papeda: Kisah Rindu Jayapura yang Mengajarkan Arti Kebersamaan dalam Keberagaman

Table of Contents
Gambar Martin Ruma saat di Jayapura
Martin Ruma/Dokumentasi Pribadi

Peta dan Papeda: Alasan Merindu Port Numbay

Instrumen lagu Taizé mengalun pelan di kamar yang sunyi.

Nada-nada itu seperti mengetuk tembok kenangan yang pernah saya bangun bertahun-tahun lalu.

Di antara dengung yang lembut, saya tiba-tiba kembali ke sebuah tanah yang pernah membentuk saya: Port Numbay.

Ada kota yang sekadar disinggahi.

Ada kota yang ditinggali.

Dan ada kota yang diam-diam meresap ke dalam darah.

Jayapura termasuk yang terakhir.

Saya pernah hidup di sana. Kuliah. Bertahan. Belajar mengerti arti cukup dan kurang. Belajar menghargai perjumpaan. Belajar bahwa hidup tidak selalu soal kenyamanan, tetapi soal kebersamaan.

Menjadi anak kos di kota itu bukan perkara sederhana. Uang harus dibagi rapi. Untuk KRS, untuk kos, untuk makan, untuk fotokopi, bahkan untuk sekadar membeli waktu bernapas.

Ada masa-masa “mati-hidup”, ketika leher terasa putus oleh kebutuhan. Tetapi justru di situlah saya belajar bahwa bertahan adalah bentuk lain dari keberanian.

Namun, dari sekian banyak hal, ada dua yang membuat Jayapura selalu memanggil saya pulang: peta dan papeda.

Peta: Pegang Tangan

Dulu, saya mengira peta adalah gambar pulau dan garis batas. Saya bahkan sempat ingin membelinya di toko buku ketika diajak “peta” oleh teman-teman saat Natal.

Baru kemudian saya tahu, peta di Jayapura berarti pegang tangan.

Sebuah tradisi sederhana: berkunjung, berjabat tangan, saling memaafkan, saling menguatkan. Tidak peduli agama, tidak peduli suku.

Martin Ruma Bersama Olifa Pikindu Anggota MRP Papua
Martin Ruma bersama Oliva Pikindu anggota MRP Papua/Dok Pribadi
Natal dan Lebaran bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk memastikan bahwa kita tidak berjalan sendirian.

Saya melihat sendiri bagaimana orang-orang dengan kalung salib datang ke rumah yang merayakan Idulfitri. Dan sebaliknya.

Rangkulannya bukan basa-basi. Ada ketulusan yang sulit dijelaskan.

Mengapa di tempat yang sering diberitakan penuh konflik, justru saya belajar tentang damai yang begitu nyata?

Mungkin karena damai tidak selalu lahir dari panggung besar. Ia lahir dari tangan yang saling menggenggam.

Papeda: Makan yang Mempersatukan

Dan papeda.

Makanan sederhana dari sagu itu awalnya tampak asing di mata saya. Lengket. Transparan. Berkuah kuning dengan ikan dan rica-rica yang menggoda.

Tetapi di meja makan, papeda bukan sekadar makanan.

Ia menjadi alasan untuk duduk bersama. Untuk bercerita. Untuk tertawa. Untuk lupa sejenak pada beban hidup.

Saya pernah berbincang dengan seorang teman dari luar negeri. Ketika saya bertanya apa yang paling ia ingat dari Papua, jawabannya sederhana: papeda.

Saya tersenyum.

Ternyata yang membuat orang ingin kembali bukan selalu gedung megah atau pusat perbelanjaan.

Kadang yang membuat rindu adalah semangkuk makanan yang dimakan bersama.

Papeda lengket.

Dan mungkin begitulah persaudaraan seharusnya: melekat.

Pergolatan yang Sunyi

Tetapi rindu tidak pernah sederhana.

Saya pernah pergi dari Jayapura dengan pikiran yang penuh tanya. Tentang keadilan. Tentang identitas. Tentang bagaimana budaya bisa perlahan digeser oleh arus besar yang tak selalu ramah.

Saya menyaksikan kesederhanaan yang kadang diremehkan. Saya menyaksikan kebanggaan terhadap budaya sendiri, tetapi juga kegelisahan terhadap masa depan.

Di sana saya belajar bahwa menjajah tidak selalu berarti datang dengan senjata. Kadang ia datang dengan cara membuat orang malu pada budayanya sendiri.

Sudahkah saya cukup menghargai tanah yang pernah memberi saya pelajaran hidup?

Kota yang Tidak Sekadar Tempat

Jayapura bukan hanya teluk yang berlekuk atau pantai yang indah.

Bukan hanya Taman Imbi atau Teluk Youtefa.

Bukan sekadar skyline dengan angin yang membelai pelan.

Ia adalah ruang di mana saya belajar bahwa:

  • keberanian bisa lahir dari kekurangan
  • damai bisa lahir dari perbedaan
  • rindu bisa menjadi doa

Kini, ketika saya jauh dari sana, saya menyadari satu hal:

kota bukan sekadar tempat tinggal. Kota adalah guru.

Dan Jayapura pernah menjadi guru bagi saya.

Saya menulis ini bukan untuk mempromosikan wisata.

Bukan pula untuk membuktikan apa pun.

Saya hanya sedang menapak tilas pada jejak yang pernah membentuk diri.

Rindu itu memang berat, kata orang.

Tetapi mungkin yang lebih berat adalah melupakan tempat yang pernah mengajarkan kita tentang hidup.

Maka saya bertanya kepada Anda:

Apakah ada sebuah kota, tempat, atau perjumpaan yang diam-diam telah membentuk siapa diri Anda hari ini?

Dan sudahkah Anda mengambil pelajaran hidup darinya?

Salve

Posting Komentar