Jakarta yang Tak Pernah Saya Kenal: Kisah Field Trip di Sekolah Kanaan Jakarta yang Mengubah Cara Pandang

Table of Contents
Gambar Sekolah Kanaan Jakarta
Gambar Sekolah Kanaan Jakarta/Dokumentasi pribadi saat mengajar di sana

Jakarta yang Tak Pernah Saya Kenal

Pagi itu perjalanan kami dimulai dari Sekolah Kristen Kanaan Jakarta.

Setelah renungan pagi, saya dan empat murid, Annie, Sisca, Desi, dan Michael melangkah keluar dari gerbang sekolah.

Bukan hanya untuk field trip.

Tetapi tanpa saya sadari, untuk melihat Jakarta dengan cara yang berbeda.

Kami terlambat tiga puluh menit karena Annie harus ke dokter.

Awalnya saya merasa jadwal sudah “terganggu”.

Namun perjalanan hari itu mengajarkan saya: tidak semua keterlambatan adalah kesalahan. Kadang itu hanya penyesuaian ritme.

Pukul 07.30 kami berjalan menuju Jalan Gunung Sahari.

Jakarta pagi itu sudah ramai.

Ibu-ibu menenteng belanjaan, motor berseliweran, pasar kecil di tepi rel berdenyut seperti jantung kota yang tidak pernah benar-benar tidur.

Saya melihat Jakarta yang bekerja sejak fajar.

Jakarta yang tidak muncul di brosur wisata.

Di Dalam Metromini: Prasangka yang Runtuh

Kami naik metromini P02 menuju Sunda Kelapa.

Berdesakan.

Berkeringat.

Menyatu dengan hiruk-pikuk penumpang lain.

Saat salah satu siswa hendak mengambil gambar untuk vlog, seorang ibu di belakang saya berbisik,

“Hati-hati ya, Nak, banyak copet.”

Kalimat sederhana itu menggugurkan prasangka saya.

Selama ini saya sering menganggap Jakarta sebagai kota yang individualistik.

Orang-orangnya sibuk.

Tidak peduli.

Ternyata saya salah.

Di tengah sesak dan panas, masih ada yang peduli pada orang asing.

Saya bertanya dalam hati:

Berapa banyak penilaian yang saya bangun hanya dari cerita, bukan dari pengalaman?

Sunda Kelapa: Debu, Sejarah, dan Sampah

Sesampainya di Sunda Kelapa, saya melihat kawasan yang gersang dan keras. Beton di mana-mana. Kapal kayu bersandar dalam diam, seperti saksi waktu.

Kami sempat kesulitan masuk karena hari itu hari kerja. Saya meminta izin, dan akhirnya diperbolehkan.

Kami menaiki sampan kecil. Seorang bapak tua mengantar kami berkeliling. Ia bercerita tentang masa lalu Sunda Kelapa, tentang kejadian Mei 1998, tentang perubahan zaman, bahkan tentang kepemimpinan Jakarta di masa lalu.

Saya mendengarnya bukan hanya sebagai cerita sejarah, tetapi sebagai napas kota.

Namun di permukaan air, saya melihat sesuatu yang menyesakkan:

Sampah.

Kardus minuman.

Kotoran manusia.

Di situlah saya merasa tertampar.

Kota ini menyimpan sejarah besar, tetapi juga menyimpan luka yang kita biarkan mengambang.

Apakah kita hanya bangga pada cerita masa lalu, tetapi lalai merawat masa kini?

Mangrove: Harapan di Tengah Beton

Destinasi berikutnya adalah Hutan Mangrove di PIK.

Di tengah kota yang penuh beton dan gedung tinggi, saya berdiri di antara pohon-pohon rindang. Udara terasa berbeda. Lebih jujur.

Namun di sela-sela pepohonan itu, berdiri bangunan yang sedang dibangun.

Kontras.

Alam dan ambisi berhadap-hadapan.

Saya merasa miris.

Betapa sulitnya mempertahankan ruang hijau di kota yang selalu ingin tumbuh ke atas.

Apakah kita sedang membangun masa depan, atau sedang perlahan menghapus keseimbangan?

Museum Nasional: Rasa Malu yang Menyadarkan

Di Museum Nasional, kami disambut alunan gamelan.

Sekelompok ibu-ibu dan beberapa remaja SMA sedang berlatih musik tradisional.

Saya terpaku.

Di tengah generasi yang lebih akrab dengan budaya luar, masih ada yang setia merawat warisan sendiri.

Dan entah mengapa, saya merasa malu.

Malu karena sering mengagumi yang jauh, tetapi jarang menghargai yang dekat.

Di dalam museum, kami melihat prasasti, fosil, kompas masa lampau.

Benda-benda yang diam, tetapi berbicara.

Saya sadar, sejarah tidak pernah benar-benar pergi.

Kita saja yang sering tidak mau berhenti untuk mendengarnya.

Jakarta yang Mengajari Saya

Perjalanan pulang pun penuh cerita.

Ditolak ojek online.

Berargumen.

Naik Transjakarta.

Berpisah satu per satu.

Di halte, seorang pria memperingatkan kami tentang modus kejahatan.

Sekali lagi, saya melihat sisi lain Jakarta:

Kota yang keras, tetapi masih punya orang-orang yang peduli.

Hari itu saya belajar bahwa Jakarta bukan hanya tentang macet dan polusi.

Jakarta adalah tentang manusia.

Tentang sejarah dan perubahan.

Tentang kepedulian kecil di tengah kecurigaan besar.

Tentang alam yang bertahan di tengah beton.

Tentang budaya yang berjuang di tengah arus globalisasi.

Renungan Batin

Sepanjang field trip ini, saya tidak hanya membawa pulang dokumentasi.

Saya membawa pulang kesadaran.

Bahwa sering kali kita menilai kota, bahkan manusia, hanya dari permukaannya.

Padahal jika kita mau berjalan sedikit lebih jauh, mendengar sedikit lebih lama, dan melihat sedikit lebih dalam, kita akan menemukan sisi lain yang tidak pernah kita kenal.

Jakarta mengajarkan saya satu hal sederhana namun dalam:

Keindahan sering tersembunyi di balik prasangka.

Sekarang saya ingin mengajak Anda merenung:

Berapa banyak tempat, orang, atau peristiwa dalam hidup kita yang kita nilai terlalu cepat, tanpa benar-benar mengenalnya?

Dan akhirnya, apa pelajaran hidup yang Anda tangkap dari perjalanan melihat sisi lain sebuah kota?

Posting Komentar