Detunglikong, Kampung Kecil dan Kenangan Besar yang Membentuk Siapa Aku

Martin Ruma saat berada di Kampung Detunglikong/Dokumentasi Pribadi
Detunglikong: Jejak Pertama yang Tak Pernah Pergi
Setiap seribu langkah yang kita tempuh hari ini selalu bermula dari satu langkah kecil, langkah yang sering kali tak lagi kita ingat.
Sebelum kita menjadi siapa-siapa, sebelum profesi dan gelar melekat pada nama, kita pernah menjadi seorang bocah: rapuh, polos, dan tidak berdaya. Kita hanya tahu berlari di tanah kampung sendiri, tanpa banyak tanya tentang masa depan.
Aku pun demikian.
Hari ini, namaku mungkin dicatat di kota lain. Hidupku bertumbuh di tanah rantau. Namun, langkah pertamaku mengenal dunia dimulai dari sebuah dusun kecil bernama Detunglikong, di Kabupaten Sikka, Maumere, Flores, Nusa Tenggara Timur.
Tulisan ini bukan untuk siapa-siapa.
Ini untukku sendiri.
Barangkali suatu hari nanti, ketika ingatan mulai menipis dan kenangan tak lagi setajam hari ini, biarlah blog ini menjadi saksi bisu. Ia akan berkisah tentang masa kecilku, tentang Detunglikong, dan tentang aku yang pernah begitu kecil di sana.
Detunglikong bukan tempat yang mudah ditemukan di peta. Ia dusun terpencil, sunyi, jauh dari hiruk-pikuk kota.
Dulu, perjalanan ke sana bukan perkara singkat. Dari Maumere, orang harus turun di Nangablo, lalu berjalan kaki melewati Oring Koting sebelum tiba di kampungku. Jalan tanah, debu, dan kadang lumpur menjadi bagian dari perjalanan itu.
Kini, mungkin segalanya telah berubah. Mungkin kendaraan sudah sampai. Mungkin jalan telah menjadi lebih ramah. Namun dalam ingatanku, Detunglikong selalu dimulai dengan langkah kaki dan napas yang terengah.
Barangkali memang demikian cara kenangan bekerja, ia tidak selalu mengikuti perubahan.
Di sekelilingnya ada kampung-kampung kecil: Oring Koting di utara, Rano di selatan, Riit dan Baleda Ahu di barat. Nama-nama itu mungkin asing bagi orang luar, tetapi bagiku, ia seperti potongan doa yang akrab di telinga.
Dan di antara semua itu, ada satu yang tak pernah absen dalam ingatan: Air terjun Sokeloleng.
Airnya jatuh tanpa tergesa, seolah memahami bahwa kampung ini tidak pernah mengenal kata buru-buru. Di sana pula tersimpan cerita tentang piring peninggalan zaman perang, entah Jepang, entah Belanda. Aku lupa. Mungkin orang-orang tua di kampung lebih tahu.
Lalu aku mulai bertanya:
Apakah sejarah selalu harus ditulis di buku?
Ataukah ia justru hidup dalam cerita-cerita yang diwariskan dari mulut ke mulut?
Orang-orang di dusunku hidup dari tanah, cokelat, kemiri, dan vanili.
Tangan-tangan mereka kasar, tetapi hati mereka lembut. Tanah menjadi sahabat, hujan menjadi harapan, dan matahari adalah teman setia yang tak pernah absen.
Di sanalah aku dilahirkan.
Di sanalah aku belajar bahwa hidup tidak selalu tentang memiliki banyak, tetapi tentang menerima dengan cukup.
Rumahku sederhana.
Beratap alang-alang, berdinding bambu. Di depannya berdiri pohon kapas yang tinggi menjulang. Di sekelilingnya tumbuh cokelat, kemiri, pisang, dan tanaman-tanaman lain yang lebih setia daripada kalender.
Namun bagiku, rumah itu adalah istana termewah yang pernah kumiliki.
Sebab di sanalah aku menjadi “raja”.
Sebagai anak bungsu dari empat bersaudara, aku adalah yang paling dimanja. Ketika makanan tinggal sedikit, orang tua dan kakak-kakakku memilih mencari lagi ke kebun, sementara aku tetap duduk dan menikmati.
Hari ini, ketika mengenangnya, aku bertanya pada diriku sendiri:
Sudahkah aku membalas keistimewaan itu dengan hidup yang layak mereka banggakan?
Rumah kami berada di pinggir jalan. Siapa pun yang datang dari Oring Koting menuju kampung utama Detunglikong, pasti melewati rumah kami lebih dulu.
Mungkin, tanpa kusadari, rumah itu mengajarkanku tentang perjumpaan, tentang orang-orang yang datang dan pergi, tentang hidup yang tidak pernah benar-benar diam.
Kini aku menulis dari tanah rantau.
Jarak telah memisahkan tubuhku dari Detunglikong, tetapi tidak pernah mampu memisahkan ingatanku darinya.
Sesekali aku bertanya:
Apakah kampung itu masih mengingatku seperti aku mengingatnya?
Apakah pohon kapas itu masih berdiri?
Apakah air Sokeloleng masih jatuh dengan suara yang sama?
Kita boleh pergi sejauh apa pun, tetapi selalu ada satu tempat yang diam-diam memanggil kita pulang.
Detunglikong bukan sekadar dusun.
Ia adalah jejak pertama.
Ia adalah langkah awal dari seribu langkah hidupku.
Dan jika suatu hari aku lupa banyak hal, semoga aku tidak pernah lupa dari mana aku memulai.
Catatan dari Tanah Rantau✒️
Posting Komentar