Ketika Pandemi Mengajarkan Saya Menjadi Murid Lagi: Kisah Guru Belajar di Era Digital
Ketika Pandemi Mengajarkan Saya Menjadi Murid Lagi
Gambar Martin Ruma saat mengajar online/dok pribadi
Pandemi itu sunyi.
Sekolah kosong.
Lorong-lorong yang biasa riuh oleh tawa murid mendadak hening.
Dunia seperti menahan napas.
Virus itu bernama Corona.
Ia tidak membawa kebaikan. Ia membawa ketakutan.
Namun di tengah ketakutan itu, saya menemukan sesuatu yang tidak saya duga:
saya dipaksa menjadi murid lagi.
Sebagai guru yang pernah lama mengajar di pedalaman Papua, teknologi bukan sahabat dekat saya. Saya cukup dengan papan tulis, spidol, dan tatap muka yang hangat.
Lalu pandemi datang.
Tiba-tiba ruang kelas pindah ke layar.
Tatapan mata murid berubah menjadi ikon kecil di Zoom.
Suara mereka kadang hilang, kadang terputus.
Saya gelisah.
Apakah saya mampu?
Apakah saya akan tertinggal oleh zaman?
Apakah murid-murid saya akan bosan dengan guru yang gagap teknologi?
Di situlah pergulatan batin saya dimulai.
Saya mulai belajar.
Belajar mendesain blog agar menjadi ruang belajar.
Belajar merekam Zoom agar menjadi video pembelajaran.
Belajar mengubah PowerPoint menjadi konten yang bisa ditonton ulang.
Awalnya canggung.
Beberapa kali gagal.
Beberapa kali hampir menyerah.
Namun saya menyadari satu hal:
Pandemi tidak hanya menyerang tubuh manusia.
Ia juga menyerang zona nyaman.
Dan mungkin, zona nyaman itulah yang selama ini membuat saya berhenti bertumbuh.
Saya teringat teori growth mindset dari Carol Dweck. Ia mengatakan bahwa kemampuan bukan sesuatu yang tetap, melainkan bisa dikembangkan melalui usaha dan proses belajar.
Saya bertanya pada diri sendiri:
Apakah saya benar-benar percaya pada pertumbuhan?
Atau saya hanya mengajarkannya kepada murid?
Pandemi seperti cermin besar.
Ia memantulkan kembali semua teori yang pernah saya ajarkan.
Dan kini saya yang diuji.
Lambat laun, pembelajaran menjadi lebih variatif.
Dari Google Classroom, blog, Zoom, hingga video pembelajaran.
Suatu hari seorang murid mengirim pesan:
Ketika Pandemi Mengajarkan Saya Menjadi Murid Lagi
“Terima kasih Pak atas inovasinya. Kami jadi ingin menulis di blog secara profesional.”
Saya terdiam.
Bukan karena pujian.
Tetapi karena sadar:
ketika guru mau belajar, murid ikut bergerak.
Pandemi tidak membuat saya menjadi guru hebat.
Pandemi membuat saya sadar bahwa saya belum selesai belajar.
Manfaat ketiga yang paling mengejutkan bagi saya adalah keberanian.
Saya yang dulu merasa cukup dengan kelas kecil, kini berbicara di depan kamera.
Mengunggah video.
Berani menyampaikan gagasan di ruang digital.
Saya yang dulu ragu, kini mulai bersuara.
Bukan untuk terkenal.
Tetapi untuk tetap relevan.
Saya sadar, dunia pendidikan tidak bisa kembali seperti dulu.
Dan mungkin memang tidak seharusnya kembali seperti dulu.
Pandemi adalah krisis.
Namun seperti kata Viktor Frankl, manusia selalu punya kebebasan untuk memilih makna di tengah penderitaan.
Saya memilih belajar.
Saya memilih bertumbuh.
Saya memilih melihat masalah sebagai ruang latihan.
Bukan karena pandemi itu baik.
Tetapi karena saya tidak ingin krisis berlalu tanpa meninggalkan pelajaran.
Lalu saya bertanya kepada diri sendiri dan mungkin juga kepada Anda:
Apakah kita keluar dari pandemi dengan keluhan yang sama?
Atau dengan kapasitas yang berbeda?
Karena mungkin pelajaran terbesar dari pandemi bukan tentang virus,
melainkan tentang keberanian untuk berubah.
Dan jika suatu hari krisis lain datang,
apakah kita akan kembali panik,
atau sudah belajar menjadi lebih tangguh?
Apa pelajaran hidup yang Anda bawa dari masa itu?

Posting Komentar