Menjadi Guru: Ketika Kepercayaan Mengubah Murid “Bermasalah” Menjadi Juara

Table of Contents

Gambar Sekolah Kanaan Jakarta Juara lomba debat di Universitas Kwik Kian Gie
Gambar sekolah Kanaan Jakarta Juara 1 Lomba Debat di Kwik Kian Gie/Dokumentasi pribadi

Jika Pengalaman adalah Guru Terbaik, Maka Menjadi Guru adalah Pengalaman Terbaik saya

Di ruang guru, ada istilah yang sering terdengar lirih namun tajam:

“Biang kerok.”

Itulah label bagi anak-anak yang membuat kening guru piket berkerut hampir dua ratus persen.

Anak-anak yang kehadirannya lebih sering dibicarakan karena pelanggaran, bukan karena prestasi.

Guru juga manusia.

Kami bisa jengkel.

Kami bisa lelah.

Kami bisa menyerah.

Namun suatu hari, pengalaman sederhana mengubah cara saya memandang mereka.

Saya memenangkan lomba debat bersama tiga anak yang dianggap paling bermasalah di sekolah. Dan sejak hari itu, saya belajar sesuatu yang jauh lebih penting daripada sekadar teknik argumentasi.

Saya belajar tentang percaya.

Menjadi Guru: Ketika Kepercayaan Mengubah Murid “Bermasalah” Menjadi Juara
Tiga anak di depan foto ini adalah aktor utama tulisan ini/Dokumentasi pribadi

Tidak Ada Anak yang Sulit?

Dulu saya berpikir, murid pintar dengan segudang prestasi lalu memenangkan lomba itu biasa.

Memang sudah jalurnya begitu.

Tetapi jika murid yang biasa-biasa saja, bahkan sering dianggap “tidak bisa diatur”, tiba-tiba berdiri di panggung debat dan menantang sekolah-sekolah unggulan, itu luar biasa.

Di situlah saya mulai bertanya pada diri sendiri:

Apakah benar ada anak yang sulit?

Ataukah kita, para orang dewasa, yang kesulitan memahami cara mereka ingin dipercaya?

Keputusan yang Terlihat Gila

Awal 2016, sekolah kami diundang mengikuti lomba debat bergengsi.

Pesertanya bukan sembarang sekolah.

Ada yang pernah menjadi finalis nasional.

Ada yang juara provinsi.

Secara logika, saya harus memilih tim terbaik.

Dua pembicara terbaik tingkat provinsi ada di tangan saya.

Beberapa juara regional juga siap.

Namun entah mengapa, saya memilih tiga anak IPS yang lebih dikenal karena kenakalannya daripada kecerdasannya.

Ruang guru riuh.

Pimpinan mempertanyakan.

Rekan-rekan heran.

Saya sendiri?

Ragu.

Sejujurnya, keputusan itu lebih dekat pada nekat daripada yakin.

Saya ingin membuktikan sesuatu, tapi kepada siapa?

Kepada sekolah?

Kepada mereka?

Atau kepada ego saya sendiri sebagai guru?

Saya bahkan tidak yakin mereka punya kemampuan debat yang cukup.

Waktu tinggal sehari.

Mental belum terbentuk.

Teknik belum dipelajari.

Namun saya katakan pada mereka,

“Saya percaya kalian bisa.”

Kalimat itu terdengar gagah.

Padahal di dalam hati, saya gemetar.

Gambar tim debat Sekolah Kanaan Jakarta Juara debat di Universitas Kwik Kian Gie
Tim debat Sekolah Kanaan Juara Debat (tengah batik hijau)/Dokumentasi pribadi

Percaya yang Dipertaruhkan

“Bapak tidak salah pilih kami?”

Pertanyaan itu seperti cermin.

Saya bisa mundur saat itu.

Saya bisa membatalkan semuanya.

Saya bisa kembali ke pilihan aman.

Tetapi saya memilih berdiri di depan mereka dan berkata,

“Tidak.”

Saya tahu mereka sering dicap nakal.

Saya tahu reputasi mereka tidak baik.

Tetapi saya juga tahu, setiap anak pasti ingin dihargai.

Saya hanya bertanya satu hal pada mereka:

“Kalian mau dikenal sebagai anak bermasalah, atau anak berprestasi?”

Sunyi.

Pertanyaan itu tidak mereka jawab dengan kata-kata, tetapi dengan tatapan.

Saya meninggalkan mereka sore itu dengan satu kalimat:

“Buktikan jika kalian tidak seperti yang dikatakan orang.”

Semi Final dan Sebuah Mukjizat

Mereka masuk semifinal.

Melawan sekolah unggulan.

Saya yang lebih gugup daripada mereka.

Mereka yang lebih pucat daripada biasanya.

Lima menit sebelum lomba dimulai, saya hanya berkata:

“Nak, kalau sudah basah, basah sekalian. Pergi dan menangkan. Saya percaya pada kalian.”

Entah bagaimana caranya, mereka menang.

Anak-anak yang dulu disebut “biang kerok” itu menjatuhkan raksasa debat tingkat provinsi.

Saya tidak melihat teknik luar biasa hari itu.

Saya melihat keberanian yang lahir dari rasa dipercaya.

Kami Kalah, Tetapi Saya Menang

Di final kami kalah.

Juara dua.

Tetapi dalam perjalanan pulang, saya merasa menjadi pemenang.

Saya tidak hanya melihat anak-anak itu berubah.

Saya melihat diri saya berubah.

Saya menyadari bahwa mungkin selama ini saya terlalu cepat menilai.

Terlalu cepat mengelompokkan.

Terlalu cepat menentukan siapa yang “layak” dan siapa yang “tidak”.

Ternyata menjadi guru bukan soal mengajar materi.

Tetapi tentang memberi kesempatan kedua.

Tentang melihat potensi yang bahkan belum disadari oleh pemiliknya.

Dan mungkin, tentang berani mempercayai ketika semua orang memilih meragukan.

Renungan Batin

Hari itu saya belajar bahwa kepercayaan adalah pupuk yang tidak terlihat, tetapi mampu menumbuhkan hutan.

Saya juga belajar bahwa kadang keputusan yang tampak gila justru menyelamatkan harga diri seorang anak.

Dan lebih dari itu, saya belajar bahwa menjadi guru bukan tentang seberapa banyak murid pintar yang kita hasilkan, tetapi tentang berapa banyak anak yang kita selamatkan dari label.

Lalu saya bertanya pada diri sendiri dan mungkin juga pada Anda:

Sudahkah kita memberi ruang bagi seseorang untuk membuktikan bahwa ia lebih besar dari label yang menempel padanya?

Karena bisa jadi, pelajaran hidup terbesar dari kisah ini sederhana:

Satu kepercayaan yang tulus bisa mengubah masa depan seseorang.

Sekarang pertanyaannya untuk kita renungkan bersama:

Apa pelajaran hidup yang Anda tangkap dari kisah ini tentang percaya, tentang keberanian, dan tentang melihat manusia lebih dalam dari sekadar reputasinya?

Posting Komentar