Hari Pertama Sekolah di Desa Detunglikong: Kenangan yang Mengantar Saya Menjadi Guru

Martin Ruma saat berziarah di Kuburan sang ibu di Kolisia - Maumere/Dokumentasi pribadi
Kenangan Hari Pertama Sekolah di Desa: Awal Perjalanan Menjadi Guru
“Besok kamu masuk sekolah,” kata bapak suatu malam.
Kalimat itu sederhana. Namun sampai hari ini masih tinggal dalam ingatan saya, seperti gema yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Benar, bapak?” tanya saya, memastikan bahwa telinga saya tidak salah mendengar.
Beliau tidak menjawab. Hanya senyum tipis yang muncul di balik wajahnya yang tampak garang, tetapi sesungguhnya penuh kasih kepada keluarga. Setelah itu bapak berdiri dan pergi meninggalkan balai-balai tempat kami beraso malam itu, sekadar menikmati udara desa yang dingin dan sunyi.
Saya masih duduk dengan banyak tanya di kepala.
Ibu yang mungkin membaca kebingungan di wajah saya akhirnya berkata pelan,
“Iya, benar. Besok kamu sekolah. Ayo tidur, supaya tidak terlambat.”
Tangannya mengelus rambut saya dengan lembut.
Sentuhan itu sederhana, tetapi hingga hari ini masih terasa. Barangkali begitulah cara seorang ibu menenangkan dunia kecil anaknya.
Baca juga: Kebohongan Ibuku adalah Cinta Paling Tulus yang Pernah Saya Rasakan
Namun malam itu saya tidak segera tidur.
Saya justru sibuk menimbang-nimbang seragam baru yang sehari sebelumnya dibeli bapak di pasar Nangablo. Seragam merah putih itu saya lipat, saya buka lagi, lalu saya lipat kembali. Rasanya seperti memegang sesuatu yang sangat berharga.
Saya tidak tahu mengapa.
Baru jauh setelah waktu berjalan, saya menyadari sesuatu:
barangkali seragam itulah yang diam-diam menuntun langkah saya hingga hari ini menjadi seorang guru.
Ibu yang melihat kegembiraan saya hanya tersenyum.
“Nanti saja lihatnya. Sekarang tidur. Besok kamu sekolah,” katanya lagi dengan nada yang lembut tetapi tegas.
Embun Pagi dan Langkah Kecil Menuju Sekolah
Pagi itu embun masih belum kering.
Bukan karena semalam hujan, tetapi karena di tempat kami, pagi memang selalu datang bersama dingin yang menusuk tulang. Udara seperti itu sudah menjadi bagian dari kehidupan di kampung.
Namun dingin itu tidak terasa menghalangi langkah kecil saya.
Hari itu saya berjalan menuju SD Detunglikong. Hari pertama masuk sekolah.
Ketika sampai di halaman sekolah, belum ada siapa-siapa.
Saya berdiri sendiri di sana.
Pagi masih terlalu muda.
Anehnya, saya tidak merasa takut. Tidak juga merasa canggung.
Yang ada hanya satu perasaan yang sulit dijelaskan:
bahagia.
Jika hari ini seseorang bertanya mengapa saya begitu bahagia saat itu, mungkin saya tidak akan mampu menjawab dengan penjelasan yang rumit.
Jawabannya sangat sederhana:
karena saya bisa bersekolah.
Upacara Bendera yang Belum Saya Mengerti
Beberapa waktu kemudian satu per satu anak-anak datang.
Ada yang berjalan bersama teman-temannya. Ada yang diantar orang tua. Suasana sekolah yang tadinya sepi perlahan berubah menjadi ramai.
Tepat pukul 07.00 WITA kami mulai berbaris di halaman sekolah.
Hari itu kami mengikuti upacara bendera.
Seorang guru berdiri di depan podium dan berbicara panjang lebar. Saat itu saya tidak mengerti apa yang beliau sampaikan. Bahkan saya tidak tahu bahwa orang yang berbicara di depan itu disebut pembina upacara. Baru ketika saya sendiri menjadi guru, saya memahami istilah itu.
Waktu itu saya hanya melihat sekeliling.
Seragam merah putih yang berbaris rapi.
Anak-anak yang berdiri tegak.
Dan di belakang barisan, beberapa orang tua yang menunggu sambil memandang anak-anak mereka.
Itulah yang saya ingat.
Bukan isi pidatonya.
Tetapi suasananya.
Dan entah mengapa, semua itu terasa sangat membahagiakan.
Hari pertama masuk sekolah di SD Detunglikong mungkin bagi orang lain hanyalah peristiwa biasa. Tetapi bagi saya, hari itu adalah pintu kecil yang membuka jalan panjang kehidupan.
Hari itu saya belum mengerti banyak hal tentang sekolah, tentang pelajaran, bahkan tentang masa depan.
Namun langkah kecil yang saya ambil pagi itu ternyata membawa saya jauh, hingga suatu hari saya berdiri di depan kelas, menjadi seorang guru.
Dan kadang saya bertanya dalam diam:
Apakah setiap perjalanan besar dalam hidup memang selalu dimulai dari langkah kecil yang penuh bahagia, bahkan ketika kita sendiri belum mengerti ke mana langkah itu akan membawa kita?
Posting Komentar