Perantau di Jakarta: Putra Betawi dan Catatan Pertama Meninggalkan Papua
Perjalanan, Perantauan di Jakarta, dan Pelajaran Hidup
Setiap perjalanan selalu menyisakan kisah. Dan setiap kisah, jika direnungkan, menyimpan pelajaran yang tidak selalu kita sadari saat menjalaninya.
Tahun 2013, saya membuat keputusan yang bagi banyak orang mungkin terdengar nekat: meninggalkan Papua, tanah yang memberiku kenyamanan, untuk mencoba hidup di Jakarta.
Saya tahu apa yang saya tinggalkan. Saya tidak tahu apa yang akan saya temui.
Sebagai anak kampung dari timur Indonesia, ibu kota terasa seperti dunia lain—gedung tinggi, jalan yang tak pernah tidur, dan manusia yang berjalan cepat.
Di fase awal itu, Tuhan mempertemukan saya dengan seorang putra Betawi bernama Baharudin, kami memanggilnya Bidin.
Ia bukan pejabat. Bukan orang berpendidikan tinggi. Ia hanya pekerja keras yang mengantar kaca ke berbagai sudut kota.
Namun bagi saya, ia adalah guru pertama membaca “peta kehidupan” Jakarta.
Bersamanya saya mengenal kemacetan.
Bersamanya saya menghafal jalan.
Bersamanya saya belajar kehati-hatian.
Di sanalah saya belajar satu hal:
Jakarta bukan soal gedung tinggi, tetapi soal kesabaran.
Saya datang dengan mimpi, tetapi belajar dari seseorang yang setiap hari berjuang untuk keluarganya.
Suatu sore, telepon saya berdering:
“Bapak bisa ke SMA Kanaan sekarang untuk wawancara?”
Harapan itu datang di tengah kebingungan.
Dengan bekal arah dari Bidin, saya melangkah.
Bingung? Ya.
Takut? Pasti.
Tetapi saya belajar: perantau tidak punya pilihan selain berjalan.
Saya diterima mengajar di SMA Kanaan Jakarta. Di sanalah saya bertahan dan belajar menyesuaikan diri.
Namun hidup belum selesai menguji.
Suatu hari Bidin berkata,
“Om, ada channel kah? Saya mau keluar dari kerjaan ini.”
Saya terdiam. Orang yang dulu membantu saya, kini membutuhkan bantuan yang tak bisa saya berikan.
Ada rasa tidak berdaya.
Namun hidup tidak sepenuhnya kejam. Ia akhirnya mendapatkan pekerjaan baru.
Dan saya belajar lagi:
Tuhan tidak selalu memakai orang besar untuk menolong kita.
Kadang Ia memakai orang sederhana.
Sebagai perantau, saya memahami bahwa Jakarta adalah ruang ujian:
Ujian bertahan.
Ujian bersyukur.
Ujian untuk tidak menyerah.
Hidup bukan sekadar dinikmati. Hidup adalah tanggung jawab.
Untuk makan kita bekerja.
Untuk bekerja kita berjuang.
Untuk berjuang kita harus kuat.
Namun di balik kerasnya hidup, ada pelajaran lembut:
Hidup mengajari kita lewat orang-orang sederhana.
Sopir, tukang ojek, pengantar kaca—mereka adalah guru kehidupan.
Kini saya menyadari, pelajaran terbesar bukan dari buku, tetapi dari mereka yang berjalan bersama kita.
Menjadi perantau bukan sekadar pindah tempat.
Ia adalah pelajaran tentang kerendahan hati.
Bahwa kita tidak tahu apa-apa.
Bahwa orang biasa bisa menjadi guru.
Bahwa bertahan adalah keberanian.
Lalu apa pelajarannya?
Hidup bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, tetapi siapa yang terus melangkah.
Kebaikan kecil bisa mengubah arah hidup seseorang.
Kini saya bertanya kepada Anda:
Sudahkah kita melihat orang sederhana sebagai guru?
Ataukah kita terlalu sibuk mengejar tujuan?
Karena mungkin, pelajaran terbesar datang dari mereka yang berjalan sebentar bersama kita.
Dan jika suatu hari Anda harus meninggalkan zona nyaman,
apakah Anda berani melangkah?
— Merantaulah ke Jakarta


Posting Komentar